Lev
Vygostky merupakan psikolog Rusia yang percaya bahwa anak aktif dalam menyusun
pengetahuan mereka. Vygotsky lahir di Rusia pada tahun 1896. Lev Vygotsky adalah tokoh pendidikan yang
melihat bagaimana pembelajaran itu terjadi dipandang dari sisi sosial.
Perkembangan kognitif dan bahasa anak-anak tidak berkembang dalam suatu situasi
sosial yang hampa. Vygotsky berpendapat bahwa perkembangan kognitif dan bahasa
anak akan berkembang melalui kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Sehingga
menurutnya perkembangan anak tidak berkembang tanpa adanya situasi sosial.
Vygotsky percaya bahwa perkembangan anak yang dilakukan melalui interaksi
sosial dan budaya dapat membantu anak dalam berfikir, berkomunikasi, dan
memecahkan masalah seperti seperti ingatan, perhatian, dan penalaran yang
melibatkan pembelajaran dengan menggunakan temuan-temuan masyarakat.
Ada tiga klaim dalam inti pandangan Vygotsky :
1.
Keahlian kognitif anak dapat dipahami
apabila dianalisis dan diinterpretasikan secara developmental.
2.
Kemampuan konitif dimediasi dengan kata,
bahasa, dan bentuk disukursus, yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk
membantu dan mentransformasi aktivitas mental. Vygotsky berpendapat bahwa pada
masa early childhood, bahasa mulai
digunakan sebagai alat yang membantu anak untuk merancang aktivitas dan
memecahkan problem.
3.
Kemampuan kognitif berasal dari relasi
sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural. Vygotsky mengatakan
bahwa perkembangan anak tidak bisa dipisahkan dari kegiatan sosial dan
kultural.
Di dalam ketiga klaim dasar ini Vygotsky mengajukan
gagasan yang unik dan kuat tentang hubungan antara pembelajaran dan
perkembangan. Ide ini secara khusus merefleksikan pandangannya bahwa fungsi
kognitif berasal dari situasi sosial.
a.
Zone
of Proximal Development (ZPD)
Istilah Vygotsky untuk serangkaian
tugas yang terlalu sulit dikuasai anak secara sendirian tetapi dapat dipelajari
dengan bantuan dari orang dewasa atau anak yang lebih mampu.
·
Batas bawah ZPD : tingkat problem yang
dapat dipecahkan oleh anak seorang diri.
·
Batas atas ZPD : tingkat tanggung jawab
atas tugas tambahan yang dapat diterima anak denan bantuan dari instruktur yang
mampu.
ZPD melibatkan kemampuan kognitif
anak yang berada dalam proses pendewasaan dan tingkat kinerja mereka dengan
bantuan orang yang lebih ahli.
Sebagai contoh yang nyata dalam
kehidupan saya, ialah ketika ayah saya membelikan saya permainan balok-balok
kayu dengan bentuk yang beragam (persegi, segitiga, lingkaran, dsb). Saat itu
saya masih dalam usia 3 atau 4 tahun, jadi saya sulit untuk membedakan
bentuk-bentuk kayu tersebut. Ayah dan ibu saya bergantian mengajarkan saya
untuk membedakan mana kayu yang berbentuk lingkaran, segitiga, persegi, persegi
panjang dan lainnya. Hampir setiap hari, sepulang sekolah (saat itu saya sudah
masuk TK) saya memainkan balok-balok kayu tersebut. Awalnya saya masih sering
tertukar nama dengan bentuknya namun ibu saya selalu membantu untuk
membedakannya sampai pada akhirnya saya bisa membedakannya dan menyusunnya
tanpa bantuan ayah atau ibu saya.
b.
Scaffolding
Merupakan sebuah teknik untuk
mengubah level dukungan. Selama sesi pengajaran, orang yang lebih ahli (guru
atau murid yang lebih mampu) menyesuaikan jumlah bimbingannya dengan level
kinerja murid yang telah dicapai. Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari
saya, misalnya pada saat saya meminta tolong pada abang saya untuk mengajarkan
cara menggunakan internet di laptop. Pada awalnya abang saya mengajarkan untuk
menyalakan laptop, membuka browser (Mozilla, Google Chrome, dsb.), memasukan
link/situs yang ingin saya buka. Link yang pertama kali abang saya
perkenalkan ialah Goggle. Katanya,
melalui google saya bisa banyak tau informasi. Kemudian, abang saya juga
mengajarkan bagaimana cara memasukan keyword
yang saya inginkan pada kolom. Selain dari pada Google, saya minta diajarkan untuk membuka Friendster (jadul banget yah hihi). Abang saya terus menerus berada
di samping saya dan mengajarkan log in ke friendster, meng-klik tombol sambil
menunjukkan cara-caranya pada saya. Secara bertahap, abang saya tidak lagi
menolong saya dalam menyalakan dan mematikan laptop. Lalu dia juga mulai
membiarakan saya mencoba untuk menyalakan, mematikan laptop serta menggunakan
internet. Pada akhirnya, abang saya tidak lagi membantu sehingga lama-kelamaan,
saya bisa menggunakan laptop tanpa bantuannya lagi.
c.
Bahasa
dan Pemikiran
Vygotsky percaya bahwa anak-anak
menggunakan bahasa bukan hanya untuk komunikasi sosial, tetapi juga untuk
merencanakan, memonitor perilaku mereka dengan caranya sendiri. Penggunaan bahasa
untuk mengatur diri sendiri dinamakan “inner
speech” (pembicaran batin) atau “private
speech” (pembicaraan privat). Menurut Vygotsky, private speech adalah alat
penting bagi pemikiran selama masa kanak-kanak (early childhood).
Anak-anak sering
terlihat berbicara sendiri dan mengatur dirinya sendiri ketika ia berbuat
sesuatu atau bermain. Termasuk saya, saat itu saya senang sekali bermain
“guru-guruan”, meniru cara guru saya mengajar dan berbicara.
KELOMPOK 3 :
1. Gigih Mentari (13-010) - Teori Bronfenbrenner
2. Zelita Almira (13-060) - Teori Vygotsky
3. Alia Shinta Dewi (13-094) - Teori Vygotsky
4. Putri Nova Sari (13-110) - Teori Bronfenbrenner
5. Kishia Dwi Putri (13-140) - Teori Bronfenbrenner



Tidak ada komentar:
Posting Komentar